Investasi

Beli Kripto Pertama Kali, Sebenarnya Harus Taruh BerapaSoal porsi dan ritme menaruh kripto ke dalam portofoliomu

Bukan "beli koin apa" — tapi "perlu nggak, berapa, gimana caranya, dan kapan justru sama sekali jangan".

Mia Chen·Diperbarui 2026-09-28

Aturan 5% beredar di mana-mana, tapi 5% dari angka yang mana? Persentasenya baru punya arti setelah kamu tahu berapa uang yang benar-benar boleh hilang tanpa mengubah hidupmu bulan depan. Keputusannya tetap milikmu, dan untung-ruginya kamu tanggung sendiri.

Sebelum Bicara Angka, Kalibrasi Tiga Sikap Dulu

  1. "Investasi" dan "spekulasi" itu dua hal berbeda.

    Investasi adalah alokasi jangka panjang yang dilandasi pemahaman. Spekulasi adalah bertaruh naik-turun jangka pendek pakai feeling. Kalau niatmu "lihat besok naik langsung jual", itu bukan investasi, itu judi.

  2. Nggak ada yang namanya "pasti untung".

    Siapa pun yang bilang "dijamin untung" sedang membohongimu. Bitcoin pernah naik 10x, tapi juga pernah turun 85%. Setiap rupiah yang kamu setor bisa saja jadi nol.

  3. Nggak ikut investasi bukan berarti "ketinggalan".

    Kalau kondisi keuanganmu belum sampai tahap mampu menanggung risiko tinggi, tidak membeli kripto adalah pilihan yang benar sepenuhnya. FOMO (takut ketinggalan) adalah salah satu penyebab kerugian paling umum.

Pola Pikir Keranjang: Jangan Taruh Semua Telur di Satu Keranjang

Prinsip paling dasar dalam mengelola uang: diversifikasi. Uangmu sebaiknya dibagi ke beberapa "keranjang" berbeda:

  • Dana darurat (3-6 bulan biaya hidup) — simpan di tempat yang bisa diambil kapan saja, jangan diutak-atik
  • Investasi stabil (reksadana, deposito, obligasi) — mengejar imbal hasil yang lebih tenang
  • Properti (kalau ada)
  • Alokasi risiko tinggi (saham individu, kripto) — bisa berlipat, bisa juga jadi nol

Kripto ada di keranjang terakhir. Ini bagian paling berisiko dari seluruh alokasi asetmu — bukan fondasi, bukan pemain utama.

Berapa? Aturan 5%

Saran yang umum dari banyak lembaga keuangan biasanya: kripto tidak melebihi 1-5% dari aset yang bisa diinvestasikan.

Apa maksudnya "aset yang bisa diinvestasikan"? Itu adalah sisa uang setelah dikurangi dana darurat, pengeluaran rutin bulanan, dan cicilan.

Aset yang bisa diinvestasikan1%3%5%
Rp10 jutaRp100.000Rp300.000Rp500.000
Rp50 jutaRp500.000Rp1,5 jutaRp2,5 juta
Rp100 jutaRp1 jutaRp3 jutaRp5 juta

Perhatikan: persentase ini adalah batas atas, bukan anjuran. Kalau kamu benar-benar pemula, mulai dari 1% atau bahkan lebih kecil sangat masuk akal. Prinsip intinya cuma satu: seandainya uang ini hilang seluruhnya, hidupmu sama sekali tidak terganggu. Angka pastinya kamu sendiri yang hitung — ini bukan target untuk ditiru mentah-mentah.

Hitung Dulu "Aset yang Bisa Diinvestasikan"

Tadi disebutkan kripto nggak boleh lebih dari 1-5% dari "aset yang bisa diinvestasikan", tapi banyak orang sebenarnya belum pernah menghitung apa itu "aset yang bisa diinvestasikan". Ini bukan saldo di rekening bankmu, juga bukan angka gaji bulananmu, melainkan sisa uang setelah melewati beberapa tahap pengurangan.

Urutannya kurang lebih begini:

  1. Mulai dari penghasilan bersih (setelah pajak). Uang yang benar-benar kamu terima, bukan gaji kotor.
  2. Kurangi dana darurat. Kumpulkan dulu 3-6 bulan biaya hidup — uang ini bukan "bisa diinvestasikan", ini uang jaga-jaga yang selalu jadi prioritas nomor satu.
  3. Kurangi pengeluaran tetap bulanan. Sewa kos, makan, listrik-air, transportasi — ini biaya untuk bertahan hidup, tidak boleh diserobot investasi.
  4. Kurangi cicilan utang berbunga tinggi. Kartu kredit, pinjol, biasanya bunganya jauh lebih tinggi daripada imbal hasil investasi mana pun, jadi harus dilunasi lebih dulu.

Sisa uang setelah keempat langkah ini barulah "aset yang bisa diinvestasikan". Kripto cuma boleh mengambil porsi 1-5% dari uang ini — bukan 1-5% dari penghasilan bersih, apalagi 1-5% dari saldo rekening.

Contoh biar lebih kebayang (angkanya cuma ilustrasi buat menunjukkan langkahnya, bukan buat ditiru mentah-mentah): misalnya penghasilan bersih bulanan Rp8.000.000, dana darurat sudah cukup jadi nggak perlu dihitung lagi, pengeluaran tetap bulanan Rp5.000.000, tanpa utang berbunga tinggi — "aset yang bisa diinvestasikan" bulan ini sekitar Rp3.000.000, jadi batas atas kripto adalah 1-5% dari Rp3.000.000 tadi, yaitu sekitar Rp30.000-Rp150.000.

Perhatikan, urutan ini nggak boleh dibalik: dana darurat dan pelunasan utang selalu ada di depan kripto. Kalau dana daruratmu belum cukup atau kamu masih punya utang berbunga tinggi, tapi sudah mikirin "taruh berapa persen ke kripto" — itu artinya prioritasnya sudah salah dari awal.

Malas hitung manual? Pakai kalkulator batas uang nganggur, tinggal masukkan angkamu, biar dihitungkan otomatis.

Tiga Situasi Nyata, Kita Bahas Satu-Satu

Ini bukan cerita tentang satu orang tertentu, tapi tiga situasi yang cukup umum — kemungkinan besar kamu akan melihat bayanganmu sendiri di salah satunya. Tapi cara menaruhnya tetap harus kamu sesuaikan dengan angka-angkamu sendiri.

Mahasiswa / Gaji Habis Tiap Bulan

Kalau kamu masih kuliah, atau gajimu selalu nyaris habis tiap bulan, terus terang: fokus di tahap ini bukan "investasi", tapi "memahami". Tanpa dana darurat, tanpa sisa uang yang stabil, "aset yang bisa diinvestasikan" yang dibahas tadi kemungkinan besar mendekati nol — jadi untuk sekarang, jangan dulu investasi. Kalau memang mau coba merasakan, pakai saja uang jajan yang benar-benar rela hilang dan nggak akan mengganggu hidup bulan depan — jumlahnya sekecil itu sampai kamu bahkan nggak terlalu peduli naik-turunnya.

Baru Kerja, Punya Sedikit Tabungan

Ini tahap yang lumayan cocok untuk mulai "DCA kecil-kecilan". Tapi urutannya nggak boleh dibalik: lengkapi dulu dana darurat sampai setara 3-6 bulan biaya hidup, baru bicara soal kripto. Setelah dana darurat aman, sisihkan porsi kecil dari aset yang bisa diinvestasikan (mending mulai dari 1%), taruh pelan-pelan lewat DCA, sambil amati reaksi dirimu sendiri — apakah tetap bisa tidur nyenyak, atau malah tiap hari cemas mantengin harga.

Sudah Berkeluarga / Punya Cicilan Rumah

Uangmu bukan cuma milikmu sendiri lagi, jadi porsi aset berisiko harusnya ditekan lebih rendah dibanding waktu masih lajang. Keamanan arus kas keluarga selalu jadi prioritas utama — cicilan rumah bulanan, biaya anak, kemungkinan kebutuhan orang tua dari kedua pihak, semua ini lebih penting untuk dijaga ketimbang potensi imbal hasil kripto. Kalau tetap mau menaruh, porsinya harus lebih rendah dari batas atas 5% tadi, bukan malah lebih tinggi.

Pola yang sama di ketiganya: makin ketat situasimu (penghasilan makin nggak stabil, utang makin banyak, tanggungan keluarga makin berat), makin kamu harus condong ke arah "jangan banyak-banyak, pelan-pelan, pahami dulu" — bukan sebaliknya.

Strategi DCA: Jangan Beli Sekaligus

DCA (Dollar-Cost Averaging, beli rutin dengan jumlah tetap) adalah cara paling sederhana untuk menekan risiko "beli di puncak":

  • Tanggal tetap tiap bulan (misalnya tanggal 1)
  • Jumlah tetap (misalnya Rp200.000)
  • Tak peduli harganya lagi naik atau turun, begitu tanggalnya tiba, beli

Efeknya apa?

  • Saat harga tinggi, kamu otomatis beli lebih sedikit
  • Saat harga rendah, kamu otomatis beli lebih banyak
  • Dalam jangka panjang, harga rata-ratamu jadi lebih "halus"

DCA tidak menjamin untung — kalau harga koin terus turun, kamu tetap rugi. Tapi cara ini menghindari skenario terburuk: setor semuanya sekaligus tepat di titik tertinggi.

Sebagian besar bursa mendukung fitur pembelian rutin otomatis.

Setoran kecil ketemu biaya: hitung dulu sebelum jadi rutinitas

Rencana DCA di atas baru separuh cerita. Begitu nominalnya kecil dan frekuensinya sering, biaya mulai memakan porsi yang tidak lucu lagi. Ini bukan soal platform mana yang murah, tapi soal aritmetika yang bisa kamu cek sendiri sebelum menekan tombol beli.

Anggap total biaya sekali beli 0,5 persen, gabungan biaya transaksi dan selisih harga beli-jual. Angkanya jadi begini:

Sekali setorBiaya 0,5%Setahun kalau tiap bulanSetahun kalau tiap minggu
Rp100.000Rp500Rp6.000Rp26.000
Rp200.000Rp1.000Rp12.000Rp52.000
Rp500.000Rp2.500Rp30.000Rp130.000

Angkanya kelihatan kecil, dan memang kecil. Yang membesar adalah frekuensinya: beli mingguan bikin ongkosnya lebih dari empat kali lipat dibanding bulanan, sementara rata-rata harga yang kamu dapat tidak berbeda jauh. Untuk nominal di bawah Rp500.000, beli sebulan sekali biasanya lebih masuk akal daripada tiap minggu.

Satu biaya lagi yang sering mengejutkan: biaya jaringan saat kamu memindahkan kripto keluar dari platform ke dompet sendiri. Besarnya tidak mengikuti nominal transfermu, jadi memindahkan Rp150.000 bisa terasa mahal sekali. Lihat angka biayanya di layar konfirmasi sebelum menyetujui; kalau biaya itu sudah memakan beberapa persen dari nominal, tunda dan kumpulkan dulu.

Aturan praktisnya: jangan sampai ongkos beli plus ongkos pindah menghabiskan lebih dari satu persen setoranmu. Kalau lewat, besarkan nominal per pembelian atau kurangi frekuensinya, bukan berhenti menabungnya.

Sudah Beli, Terus Ngapain?

Yang dibahas sejauh ini semua soal "beli atau nggak, beli berapa", tapi jarang ada yang mikir lebih dulu soal "terus setelah beli, gimana?" Ini tiga poin tambahannya.

Pertama, tulis aturan mainmu sebelum beli. Kalau naik sampai level tertentu aku bakal ngapain (jual sebagian? tetap pegang?), kalau turun sampai level tertentu aku bakal ngapain — pertanyaan-pertanyaan ini paling baik dipikirkan matang-matang dan ditulis saat kamu masih tenang, saat belum punya posisi sama sekali. Begitu benar-benar naik atau turun, emosi biasanya langsung naik juga, dan orang gampang banget berubah pikiran mendadak — keputusan yang diambil mendadak begitu biasanya didorong keserakahan atau ketakutan, bukan logika.

Kedua, jangan mantengin chart tiap hari. Harga kripto fluktuasinya besar, perdagangannya jalan 24 jam nonstop — makin sering kamu pantau, makin gampang kebawa arus naik-turun jangka pendek dan bikin keputusan impulsif. DCA sendiri memang dirancang buat orang yang "nggak perlu mantengin tiap hari" — kamu sudah menaruh disiplinnya di dalam sistem, jadi nggak perlu pantau harian buat mengambil keputusan.

Ketiga, pertimbangkan rebalancing. Kalau kripto naik cukup banyak sampai porsinya di total asetmu melebihi batas atas yang kamu tentukan di awal (misalnya dari 5% jadi 15%), kamu bisa pertimbangkan menjual sebagian untuk menarik porsinya balik ke rentang target — ini bukan berarti kamu "pesimis" terhadap kripto, cuma menjaga eksposur risiko tetap di level yang sanggup kamu tanggung. Sebaliknya, kalau harganya anjlok parah, ikuti saja aturan yang sudah kamu tulis, jangan sampai karena "sudah rugi banyak, pengin balik modal" malah pinjam uang buat nambah modal atau pakai leverage — cara-cara begini biasanya bikin rugi lebih cepat dan lebih parah.

Kapan Sama Sekali Jangan Investasi

Kalau salah satu dari ini kena, tolong jangan investasi kripto:

  • Kamu belum punya dana darurat 3 bulan
  • Kamu punya utang berbunga tinggi (tagihan kartu kredit, pinjol)
  • Uang yang mau kamu pakai sudah ada peruntukan jelas dalam 1 tahun (sewa kos, uang kuliah, nikahan)
  • Dorongan untuk investasi datang dari "teman/influencer/grup bilang bisa cuan"
  • Kamu berharap "berlipat dalam beberapa bulan" atau "bebas finansial"
  • Kamu belum paham konsep dasar dan risiko kripto
  • Kamu nggak bisa menerima kalau "uang yang disetor mungkin jadi nol seluruhnya"

Kalau salah satu di atas kena, artinya kamu sekarang belum cocok investasi kripto. Ini bukan kegagalan, ini sikap rasional.

5 Kesalahan Paling Umum Pemula

  1. Kejar saat naik, panik jual saat turun. Lihat naik buru-buru beli, turun buru-buru jual — hasilnya selalu "beli mahal jual murah".
  2. Tidak menetapkan batas rugi. Sebelum masuk nggak memikirkan "turun sampai berapa aku akan cut loss", akhirnya makin rugi makin nggak rela jual.
  3. Menaruh semuanya di satu bursa. Waktu FTX bangkrut, banyak orang seluruh asetnya lenyap dalam semalam. Jangan taruh semua telur di satu keranjang.
  4. Beli terlalu banyak altcoin. "Diversifikasi" bukan berarti beli 20 koin kecil. Sebagian besar altcoin akhirnya jadi nol. Kalau memang mau beli, posisi inti biasanya di BTC dan ETH.
  5. Terlalu sering trading. Tiap hari pantau chart, tiap hari trading. Akumulasi biaya transaksi + keputusan emosional = hampir pasti rugi.

4 Miskonsepsi Umum Soal "Harus Investasi Berapa"

  • "Orang lain all-in, aku taruh 5% kok kayaknya penakut banget." Soal porsi ini melayani hidupmu sendiri, bukan buat dibanding-bandingkan siapa yang lebih "berani". Porsi orang lain, daya tahan risiko orang lain, nggak ada hubungannya sama kamu — yang perlu kamu cocokkan cuma dana darurat, utang, dan daya tahan mentalmu sendiri.
  • "Uangnya kecil, investasi juga nggak ada artinya." Tujuan investasi pertama bukan buat kaya mendadak dari uang segitu, tapi buat belajar cara buka akun, cara order, cara menghadapi naik-turun tanpa panik — pengalaman ini bisa didapat berapa pun jumlahnya. Mulai dari nominal kecil dulu, memahami prosesnya lebih penting daripada besarnya uang.
  • "Tunggu sampai anjlok parah baru aku borong sekaligus di titik terendah." Masalahnya, nggak ada orang yang bisa memastikan di mana titik terendahnya, termasuk kamu. Kalau kamu sendiri aja nggak yakin kapan waktu yang tepat buat beli, DCA yang "bertahap, nggak nebak timing" justru lebih realistis — tujuannya bukan beli di titik terendah, cuma supaya nggak beli di titik tertinggi.
  • "Coba iseng dulu, adu nasib." Kalau kamu masuk dengan mentalitas "coba-coba judi", itu udah bukan investasi lagi, itu spekulasi. Yang seharusnya "dicoba" adalah prosesnya — cara buka akun, cara atur DCA, cara mencatat aturanmu sendiri — bukan menaruh nasib pada tebakan naik-turun.

Tulis Keputusanmu Jadi Kartu Disiplin

Waktu terbaik untuk menulis ini adalah sekarang — saat kamu masih tenang, belum punya posisi, dan belum ada untung atau rugi di atas kertas yang memengaruhi penilaianmu. Tulis hal-hal berikut, simpan di catatan HP atau tempel di tempat yang gampang terlihat:

  • Berapa jumlah uang yang mau aku investasikan (angka pasti sebagai batas atas, bukan "sedikit" yang samar-samar)
  • Seberapa sering aku mau investasi, dan berapa jumlahnya tiap kali
  • Kalau turun sampai level tertentu, aku bakal ngapain (tetap lanjut sesuai rencana? atau berhenti dulu?)
  • Kalau naik sampai level tertentu, aku akan pertimbangkan rebalancing atau menjual sebagian
  • Kondisi seperti apa yang bikin aku benar-benar keluar total dan nggak lagi menyentuh kripto

Gunanya ditulis: begitu naik-turun beneran terjadi dan emosi paling gampang lepas kendali, kamu tinggal ikuti kartu ini, nggak perlu ambil keputusan dadakan berdasar perasaan saat itu. Kalau kamu belum pernah baca lengkap soal hal-hal yang bisa jadi masalah, sebelum menulis kartu ini sebaiknya baca dulu daftar risiko, supaya semua yang perlu dipikirkan sudah tercakup sebelum kamu menuliskannya.

Untung Jual Kripto, Kena Pajak Berapa di Indonesia?

Sejak 1 Agustus 2025 berlaku PMK 50/2025, dan untuk investor perorangan aturannya cukup sederhana:

  • Jual di platform dalam negeri yang berizin: dipotong PPh final 0,21% dari nilai transaksi, langsung oleh platformnya. Kamu nggak perlu menghitung sendiri.
  • Jual lewat platform luar negeri: tarifnya 1% dari nilai transaksi.
  • Beli kripto: sejak tanggal yang sama nggak lagi kena PPN.

Yang perlu kamu lakukan: tiap akhir tahun, unduh riwayat transaksi setahun dari platform (biasanya ada tombol ekspor di menu riwayat atau laporan), simpan bersama bukti potong pajaknya, dan laporkan kripto yang kamu pegang di daftar harta pada SPT Tahunan. Kalau bingung mengisinya, tanya Kring Pajak di 1500200.

Soal jumlah, mungkin kamu masih ragu

Sebagai pemula, berapa persen aset yang sebaiknya ditaruh di kripto?
Hitung dulu "aset yang bisa diinvestasikan" pakai cara di artikel, lalu mulai dari 1%: kalau belum pernah beli sama sekali, tahun pertama cukup 1%; kalau sudah pernah melewati satu kali anjlok besar tanpa panik jual, boleh naik ke 3%; 5% itu batas atas, bukan target. Ujiannya cuma satu: kalau uang ini hilang seluruhnya, hidupmu tetap bisa jalan. Kalau ruginya bakal mengganggu makan, bayar cicilan, atau bayar kos, berapa pun persennya sudah kebanyakan. Malas hitung manual? Pakai kalkulator batas uang nganggur.
Beli sekaligus atau DCA, mana yang lebih baik?
Pilih dari asal uangnya. Kalau kamu menyisihkan sebagian gaji tiap bulan untuk beli, itu sudah DCA, nggak perlu bingung. Kalau yang kamu pegang uang sekaligus dan takut beli di puncak, bagi rata jadi 4 sampai 6 bagian, lalu beli satu bagian tiap bulan di tanggal yang sama. Harga yang dibayar untuk DCA: kalau harga terus naik, harga rata-ratamu lebih tinggi daripada beli sekaligus. DCA cuma mengatur "kapan beli"; barang yang dibeli tetap bisa turun, jadi nggak menjamin untung.
Dalam kondisi apa sekarang aku justru jangan investasi?
Beberapa garis merah bisa aku katakan langsung: pakai uang pinjaman, pakai biaya hidup atau dana darurat, berharap bisa cepat balik modal atau bebas finansial — kalau kena salah satu saja, sekarang jangan disentuh. Ini bukan aku menyuruhmu "menunggu momen lebih baik", tapi karena pola pikir-pola pikir ini sendiri yang akan membuatmu mengambil keputusan paling buruk. Cek cepat: uang ini akan dipakai dalam enam bulan ke depan? Uang pinjaman? Kamu berharap balik modal cepat dari sini? Satu jawaban "ya" sudah cukup untuk berhenti dulu.
Kalau rugi, perlu top-up buat "meratakan harga" nggak?
Sebelum top-up, tanya dua hal ke dirimu: uang tambahan ini kalau hilang semua, hidupmu tetap aman? Alasan kamu dulu beli masih berlaku sekarang? Kalau dua-duanya "ya", top-up sesuai jadwal yang sudah kamu tentukan dari awal, misalnya tiap turun 20% tambah sekali, paling banyak dua kali. Kalau salah satunya "tidak", jangan top-up. Banyak orang bilang "meratakan harga", padahal sebenarnya nggak rela rugi, lalu terus menambah uang yang seharusnya nggak disetor — makin dalam terjebak.
Perlu disebar ke banyak koin nggak?
Untuk pemula: pegang Bitcoin saja, atau Bitcoin plus Ethereum, paling banyak tiga koin. Lebih dari itu kemungkinan besar kamu nggak sanggup mengikuti, dan sebagian besar koin kecil akhirnya jadi nol, jadi menyebar malah jadi menyebar jebakan. Baru tambah koin lain kalau kamu bisa menjelaskan dalam satu-dua kalimat koin itu hidup dari apa dan siapa yang memakainya.
"Aset yang bisa diinvestasikan" itu sebenarnya dihitung gimana?
Ambil penghasilan bersih (setelah pajak), kurangi dulu dana darurat (kalau belum cukup, tabung dulu), lalu kurangi pengeluaran tetap bulanan seperti sewa kos, makan, listrik-air, transportasi, lalu kurangi cicilan utang berbunga tinggi — sisa uang setelah semua langkah ini barulah "aset yang bisa diinvestasikan". Batas atas kripto adalah 1-5% dari uang ini, bukan 1-5% dari penghasilan atau tabungan. Langkah lengkap dan contoh hitungannya sudah aku tulis di bagian isi artikel; kalau malas hitung manual, bisa juga pakai kalkulator batas uang nganggur.
Kalau harganya udah naik banyak, perlu jual sebagian nggak?
Tetapkan satu garis: kalau porsi kripto di total asetmu sudah lebih dari 1,5 kali batas atas yang kamu tentukan (misalnya batasnya 5%, lalu naik jadi di atas 7,5%), jual kelebihannya sampai kembali ke 5%. Ini namanya rebalancing, langkah wajar untuk menjaga risiko, bukan tanda pesimis. Kuncinya, jalankan aturan yang kamu tulis saat masih tenang, jangan memutuskan dadakan sambil melihat kenaikan harga.

Persentase dan pajak, konfirmasi lagi sendiri

Yang aku tulis adalah kerangka berpikir, bukan kesimpulan. Kalau benar-benar mau mengambil keputusan, tempat-tempat ini perlu kamu lihat sendiri dan cek pakai informasi real-time hari ini, jangan cuma percaya satu artikelku:

Halaman ini terakhir diperbarui: 2026-09-28. Artikel ini hanya menyediakan kerangka berpikir, bukan nasihat investasi apa pun; keputusan akhir tergantung kondisimu sendiri, dan untung-ruginya kamu tanggung sendiri.

coinher101.com